| Deskripsi Produk | Di kabupaten garut, budidaya dan pengolahan minyak akar wangi telah dilakukan sejak tahun 1918 dan komoditi ini dikenal sebagai "Golden Java Vertiver Oil". Saat ini setiap tahunnya kabupaten Garut mampu menghasilkan minyak akar wangi sebesar 50-60 ton.
Informasi Umum
- Akar wangi dikenal dengan beberapa nama di Indonesia, seperti : useur (Gayo), urek usa (Minangkabau), hapias (Batak), narwastu atau usar (Sunda), larasetu (Jawa), karabistu (Madura), nausina fuik (Roti), tahele (Gorontalo), akadu (Buol), sere ambong (Bugis), babuwamendi (Halmahera), garamakusu batawi (Ternate), baramakusu butai (Tidore).
- Akar wangi (Vetiveria zizanoides Stapt) termasuk famili Gramine atau rumput-rumputan. Memiliki bau yang sangat wangi, tumbuh merumpun lebat, akar tinggal bercabang banyak berwarna merah tua. Tangkai daun tersembul dari akar tinggal sampai mencapai 200 cm.
- Daun akar wangi berwarna kelabu, tampak kaku, panjangnya mencapai 100 cm dan tidak mengandung minyak. Bunganya berwarna hijau atau ungu.
- Cara memperbanyak dengan biji, memisahkan anak rumpun atau memecah akar tinggal yang telah bertunas.
- Beberapa negara yang mengusahakan tanaman akar wangi : Brazil, India, Haiti, Kepulauan Reunion, Honduras, Guatemala, Meksiko, Dominika dan Indonesia. Negara yang mengusahakan secara komersial untuk kepentingan penyulingan hanya Indonesia, khususnya P. Jawa. Ada sebagian kecil juga di Kepulauan Reunion.
- Dalam perdagangan minyak akar wangi hanya dikenal dua nama, yaitu java vetiver oil (asal P. Jawa) dan reunion island vetiver oil (asal Kep. Reunion).
Syarat tumbuh dan Budidaya
- Tanaman akar wangi dijumpai di Garut (daerah penghasil utama minyak akar wangi), Wonosobo, Pasuruan dan Lumajang.
- Ditanam dengan sistem monokultur atau tumpangsari. Toleran tumbuh di ketinggian 500 - 1.500 m dpl, curah hujan 1.500 - 2.500 mm per tahun, suhu udara lingkungan 17 - 27o C . Membutuhkan sinar matahari yang cukup dan lahan terbuka atau tidak terlindung oleh tanaman lain. Kondisi lahan terbaik adalah tanah berpasir atau daerah aliran abu gunung berapi pada lereng-lereng bukit karena akar tanaman akan mudah dicabut pada saat panen sehingga akar tidak ada yang tertinggal.
- Waktu penanaman setiap saat sepanjang tahun, namun yang terbaik adalah di awal musin hujan. Pemangkasan dilakukan pada saat usia tanaman 6 bulan untuk meningkatkan hasil sampai 10 %.
- Pemanenan dapat dilakukan setelah tanaman berumur 8 bulan, namun untuk memperoleh jumlah akar yang maksimum dan mutu minyak yang tinggi maka pemanenan sebaiknya dilakukan setelah tanaman mencapai umur 14 bulan - 16 bulan. Jika terlalu tua maka kandungan minyak atsiri akan mulai menurun.
- Hasil panen per hektar rata-rata sekitar 15 -20 ton basah.
Sebagai salah satu nominatif penghasil akar wangi terbesar dunia (lihat Produk Khas - Minyak Akar Wangi), masyarakat Kabupaten Garut telah mengupayakan pemanfaatan maksimal dari potensi sumber daya alam yang dimilikinya dengan cara membuat kerajinan berbahan akar wangi dalam wujud hiasan dinding/meja, taplak meja, vas bunga, tempat lilin, sajadah, dekorasi dan produk kreatif lainnya. Keistimewaan kerajinan Akar Wangi ini adalah: memiliki fungsi tertentu (misalnya tempat tisue), memiliki karakteristik menarik dan unik (karena dibuat dari bahan minor yang masih langka), serta dapat menjadi pengharum yang menyegarkan ruangan. Konon rumput Akar Wangi ini sudah dikenal sejak lama yang dipergunakan untuk pwewangi batik, maupun pengharum lemari penyimpan pakaian atau benda-benda pusaka seperti keris.
Permintaan terhadap kerjainan akar wangi dari Kabupaten Garut terus meningkat baik di tingkat lokal maupun internasional. Setidaknya terlihat dalam sektor perdagangan ekspor yang dilaporkan terakhir Disperindag Kabupaten Garut bahwa volume kerajinan akar wangi mencapai kisaran 6000 unit dengan harga 30,300,0 US$. Saat ini, permintaan ekspor sajadah akar wangi ke negara-negara Arab terus meningkat dari tahun-ke tahun. |
Komentar
Posting Komentar