Kerajinan Anyaman Bambu
| Harga | Artikel |
|---|---|
| Deskripsi Produk | Desa wisata di lekatkan atas desa ini sejak tahun 2007 oleh pemerintah kabupaten Sleman. Desa ini berada di sebelah barat kota yogyakarta sejauh 17 kilometer. Tepatnya berada di dusun Malangan, desa Sumberagung, kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sekitar 30 menit perjalanan . Pada dasarnya desa Malangan dan sekitarnya sudah puluhan tahun lalu menjadi daerah sentra kerajinan anyaman bambu dengan memproduksi beberapa alat rumah tangga seperti tampah, tenggok, kreneng, besek, kalo dan lain sebagainya. Dengan berkembangnya jaman maka para pengrajin anyaman bambu tersebut juga berinovasi agar selera pasar dapat terpenuhi. Berbagai desain anyaman bambu di sesuaikan dengan keinginan pasar sehingga pengrajin ini tetap eksis. Bahkan pada kisaran tahun 1965 dibentuk satu wadah untuk menampung hasil anyaman bambu tersebut yang nantinya dibentuk sesuai dengan desain permintaan pasar. Wadah ini diberi nama Tunggak semi yang berarti secara harafiah tunggak berarti potongan pohon bambu sedangkan semi berarti tumbuh kembali jadi dapat diartikan potongan bambu yang walalupun dipotong akan tumbuh kembali. Ini diharapkan usaha tersebut dapat selalu berkembang. Usaha ini pertama kali dikembangkan oleh Bp. Ahmad sirat, setelah beliau keluar dari pabrik kerajinan bambu PT. Lipin milik Jepang yang beroperasi didaerah tersebut. Berbekal pengalaman inilah beliau memilih untuk mengembangkan usahanya sendiri. Kerajinan ini awalnya berkembang sebagai usaha keluarga namun berkembang hingga pada tahun 1972 salah satu konsumennya PT. Panca Niaga Jakarta mengekspor hasil kerajinan tersebut ke luar negeri. Semenjak tahun 1987 pimpinan Tunggak semi bergeser dari Bp. Ahmad sirat ke putranya yakni Bp. Suryadi yang memimpin hingga saat ini dan semakin berkembang . Pada tahun 1994 Tunggak semi mengekspor sendiri hasil produksi kerajinannya yang dahulunya melalui mitra-mitra tunggak semi. Tujuan ekspor sendiri sudah merambah ke amerika, Asia, dan Eropa. Desain kerajinan produksinya saat ini sudah mencapai 300 desain, dan setiap bulannya rata rata bisa menghabiskan 1500 sampai dengan 2000 batang bambu, bahan baku tersebut didapat dari sekitar wilayah Kabupaten Sleman, Bantul dan kulon progo. Namun demikian usaha ini tidak benar benar berjalan mulus begitu saja, contohnya karena konsumen mulai jenuh dengan model-model yang ada tersebut, namun ini tidak menjadikan para pengrajin patah arang justeru semakin meningkatkan kreatifitas agar desain-desain yang dihasilkan tetap disukai oleh para konsumen. |
