Kerajinan Keramik Bayat, Klaten Jawa Tengah
| Harga | Call CS |
|---|---|
| Deskripsi Produk | Bayat adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kecamatan ini berbatasan dengan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta di sebelah selatan. Daerah ini merupakan salah satu daerah yang kaya akan kasanah budaya. Sehingga tidak jarang dijadikan sebagai tempat alternatif pariwisata Indonesia. Terkait dengan hal tersebut, seperti yang kita fahami bahwa pariwisata merupakan suatu fenomena yang ditimbulkan oleh bentuk kegiatan manusia, yaitu kegiatan melakukan perjalanan / travel (Kodhyat, 1996). Berdasarkan hal itu maka perjalanan yang dikategorikan sebagai kegiatan wisata dapat dirumuskan sebagai sebuah bentuk perjalanan dan persinggahan yang dilakukan oleh manusia di luar tempat tinggalnya untuk berbagai maksud dan tujuan, tetapi bukan untuk tinggal menetap di tempat yang dikunjungi atau disinggahi, atau untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan dengan mendapatkan “upah“. Berawal dari ketertarikan penulis mengkaji daerah Bayat Klaten menjadi pembahasan yang idealnya menjadi sebuah bahan refleksi serta diskusi dalam dunia pariwisata Indonesia, maka tulisan ini hadir untuk kemudian menjadi alternatif wacana untuk mendiskripsikan dan menganalisis perkembangan pariwisata secara sederhana. Obyek yang akan dikaji oleh penulis adalah terkait dengan perkembangan keramik Bayat serta peran serta dalam pariwisata di daerah tersebut. Di Indonesia secara umum, Bali merupakan sebuah tempat pariwisata yang dapat dikatakan maju dan berkembang secara ideal. Jika penulis kritisi secara umum, maka akan timbul pertanyaan menarik untuk dibahas. Mengapa orang dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan beberapa warga negara lain datang berduyun-duyun ke pantai Kuta dan pantai Sanur di Bali? Bukankah di negara mereka sendiri terdapat banyak pantai yang mungkin saja pemandangan alamnya lebih indah daripada pemandangan pantai Kuta dan Sanur di Bali tersebut? Atau apakah Bali memang sebagai tempat terindah yang ada dan layak dilihat oleh khalayak dunia? Bila kita kaji lebih dalam, ternyata yang menjadi tujuan para turis asing tersebut adalah ingin melihat kebudayaan Bali yang terkenal eksotik dan unik, yang berbeda dengan kebudayaan masyarakat mereka. Bila Bali tidak menawarkan kebudayaan masyarakatnya yang merupakan cerminan local genius, mungkin tidak akan ada daya tarik para wisatawan untuk mengunjunginya. Hal itulah sebenarnya yang merupakan gambaran konkret dari konsep pariwisata budaya yang istilahnya sering disebut-sebut oleh para pengambil kebijakan (pemerintah) dan para akademisi, namun seringkali sulit untuk dijelaskan dalam definisi konseptual yang operasional, terutama dalam menyepakati konsep kebudayaan itu sendiri. Menurut hemat penulis, bahwa dalam khazanah antropologi Indonesia, kebudayaan dalam perspektif klasik pernah didefinisikan oleh Koentjaraningrat sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia yang diperoleh dengan cara belajar. Dalam pengertian tersebut, kebudayaan mencakup segala hal yang merupakan keseluruhan hasil cipta, karsa, dan karya manusia, termasuk di dalamnya benda-benda hasil kreativitas/ciptaan manusia. Namun dalam perspektif antropologi yang lebih kontemporer, Kebudayaan didefinisikan sebagai suatu sistem simbol dan makna dalam sebuah masyarakat manusia yang di dalamnya terdapat norma-norma dan nilai-nilai tentang hubungan sosial dan perilaku yang menjadi identitas dari masyarakat bersangkutan. Dalam hal ini Bayat merupakan salah satu daerah yang memiliki daya tarik yang luar biasa jika diolah sedemikian rupa dan ditangani secara serius. Seperti contohnya adalah seni membuat keramik di Melikan yang mungkin hanya satu – satunya cara pembuatannya dengan teknik putaran miringnya sehingga membuat Prof. Kawasaki dari Negara Jepang turut ambil bagian untuk melestarikannya dengan membuatkan laboratorium keramik di sana. Hal tersebut menunjukan bahwa tempat ini memiliki sebuah nilai lebih dan menarik untuk dikaji lebih jauh. Setidaknya hal tersebut yang melatar belakangi penulis untuk kemudian mengambil tempat ini menjadi kajian pariwisata dari perspektif perkembangan niai-nilai seni dan budaya Indonesia. Deskripsi Produk Keramik Bayat Kelaten Jawa Tengah Klaten adalah salah satu daerah penghasil kerajinan yang cukup besar. Berbagai barang-barang kerajinan tangan (handicraf) seperti Lukis Payung, Lukis Kaca, Gerabah, kerjainan bambu, meubel dan masih banyak lagi komoditi kejainan yang dihasilkan oleh masyarakat Klaten. Salah satunya adalah di desa Bayat. Di daerah ini terkenal sebagai penghasil keramik. Berbagai macam barang kermaik tersedia, mulai dari celengan (tempat menyimpan uang), kendi (tempat air minum), meja kursi taman, guci, sampai berbagai bentuk benda keramik jiplakan dari Cina. Daerah Bayat Kabupaten Klaten, Jawa Tengah dan Kasongan Jogyakarta memang agak mirip, hal itu dikarenakan terjadi pertukaran benda-benda keramik dari Kasongan, Bantul, Yogyakarta, dengan produk keramik dari daerah Bayat, Klaten. Ada kerja sama antara perajin Bayat dengan Kasongan. Banyak penjual di daerah ini menjual keramik dari Bayat juga menjual produk keramik dari Kasongan yang meniru-niru produk keramik Cina. Ada perbedaan antara produk keramik Kasongan dan Bayat. Kalau produk keramik Kasongan mirip-mirip Cina seperti guci dan meja kursi, produk Bayat lebih ke etnik yang pembuatannya lebih rumit, khususnya dalam ornamen relief yang lebih bernuansa Jawa, tanpa nuansa warna-warna cerah. Namun, harga keramik dari Bayat lebih tinggi dibandingkan dari Kasongan. Dan kita tidak boleh saling meniru meskipun masing-masing perajin bisa membuatnya. Para pedagang keramik di sini mengaku sering mendapat pesanan dari warga asing yang datang langsung ke rumahnya, mulai dari lampu taman, variasi kendi, mangkok, piring, dan lainnya. Pesanan setiap produk keramik berkisar sampai dengan ribuan buah keramik. Pengaruh krisis dan ditimpa peristiwa pemboman di Bali, para pedagang keramik disini merasakan tak pernah lagi mendapat order dari turis asing. Tetapi pesanan dari kota-kota lain seperti Yogyakarta, Semarang, dan lainnya tetap ada walaupun sedikit. Mereka mengaku sering mendapat order dari restoran atau kafe membuat piring dan mangkok antik. Sepertinya merebaknya budaya cafe dan minum kopi berpengaruh juga terhadap orderan mug, mangkuk dan piring di daerah ini. Gerabah di Bayat juga telah di ekspor ke luar negeri. Setiap dua bulan atau sebulan sekali selalu ada pengusaha yang mengirim satu kontiner berbagai jenis produk gerabah dan keramikpaling banyak adalah untuk pasar Eropa. Meskipun perkembangan gerabah Bayat sudah memasuki dunia keramik bahkan mampu menciptakan produk yang inovatif, bukan berarti tidak ada lagi perajin gerabah tradisional. Masih banyak perajin yang setia memproduksi berbagai jenis gerabah tradisional seperti kendi, celengan, serta mainan anakanak, mulai dari wajan, cangkir dan lainnya. Dengan peralatan sederhana setia memproduksi kendi dan celengan. Celengan dihargai Rp 300 per biji dan kendi Rp 500-Rp 1.000 per biji. Mereka dapat memproduksi 1.000 kendi dan 1.000 celengan setiap bulan. Para pengrajin di Bayat dalam memberikan harga tergantung besar kecilnya keramik serta tingkat kesulitan untuk membuatnya. Harga keramik tersebut bervariasi antara Rp17.500,00 sampai Rp150.000,00/ buah. Walaupun seperti yang penulis bahas di atas bahwa pengrajin Bayat. |