Lurik: Tenun Tradisional Khas Yogyakarta
| Harga | Artikel |
|---|---|
| Deskripsi Produk | Indonesia memiliki tata laksana berbusana adat yang sangat kaya, beragam, dan terkadang mengandung nilai filosofi tertentu. Setiap provinsi di Indonesia memiliki corak busana adat yang khas dan memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain. Bagi Bangsa Indonesia, busana adat merupakan realitas kultural yang mencerminkan kekayaan dan kreativitas suatu masyarakat. Kerajinan tekstil tradisional pada dasarnya adalah kain tekstil yang dibuat secara tradisional baik proses maupun penggunaan peralatannya, atau didalam proses pertenunannya menggunakan alat tenun gedog (gendong/cag cag ataupun Alat Tenun Bukan Mesin yang biasa disingkat ATBM). Produk kerajinan tekstil tradisional beberapa di antaranya adalah kain tenun lurik, tenun ikat, dan kain songket. Seperti halnya daerah Sumatera Utara yang memiliki Ulos, Bali yang memiliki Endek dan Rang-rang, atau wilayah Nusa Tenggara yang memiliki tenun Sumba dan Timor, Daerah Istimewa Yogyakarta adalah salah satu daerah yang memiliki potensi tinggi di bidang kerajinan tekstil tradisional khususnya kain tenun lurik. Kain tenun lurik ini proses pembuatannya memang relatif cukup lama karena pengerjaanya cukup rumit. Motif yang dibuat ole para pengrajin tenun sangat erat dengan nilai-nilai budaya Jawa sehingga mempunyai nilai seni budaya yang tinggi. Kain lurik sebagai salah satu kain tenun tradisional yang tumbuh dan berkembang di Daerah Istimewa Yogyakarta. Filosofi dan makna sehelai kain lurik biasanya tercermin dalam motif dan warna lurik. Ada corak-corak yang dianggap sakral yang memberi tuah, mengandung nasehat, petunjuk dan juga harapan. Semuanya tercermin dalam corak ragam hias yang kita kenal dengan istilah motif (makna motif sehelai lurik). Kata lurik sendiri berasal dari bahasa Jawa, lorek yang berarti garis-garis, yang merupakan lambang kesederhanaan. Sederhana dalam penampilan maupun dalam pembuatan namun sarat dengan makna (Djoemena, Nian S., 2000). Selain berfungsi untuk menutup dan melindungi tubuh, lurik juga memiliki fungsi sebagai status simbol dan fungsi ritual keagamaan. Motif lurik yang dipakai oleh golongan bangsawan berbeda dengan yang digunakan oleh rakyat biasa, begitu pula lurik yang dipakai dalam upacara adat disesuaikan dengan waktu serta tujuannya. Nama motifnya diperoleh dari nama flora, fauna, atau dari sesuatu benda yang dianggap sakral. Motif lurik tradisional memiliki makna yang mengandung petuah, cita-cita, serta harapan kepada pemakainya atau dalam penggunaannya. Lurik tak dapat dipisahkan dengan kepercayaan dan ikut mengiringi berbagai upacara agama, ritual dan adat sepanjang daur kehidupan manusia. Sedangkan daur kehidupan manusia mulai dari lahir sampai meninggal diibaratkan dengan putaran empat penjuru mata angin yang bergerak dari Timur ke Selatan dengan melalui Barat menuju ke Utara. Keempat penjuru mata angin ini dalam bahasa Jawa disebut dengan mancapat. Dalam kaitan ini, setiap mata angina dilambangkan dengan simbol-simbol warna (makna warna sehelai lurik). Lurik juga tidak terlepas dari berbagai legenda yang tumbuh dan berkembang secara turun temurun dalam kelompok masyarakat. Beberapa legenda yang terkandung dalam lurik terdapat dalam artikel legenda sehelai lurik. Begitu juga dengan berbagai unsur seperti warna, motif, dan kepercayaan yang menyertai lurik membuat nilai sebuah lurik menjadi tinggi. Penggunaan lurik terutama penggunaan lurik oleh masyarakat Yogyakarta dipakai dalam penyelenggaraan upacara tertentu juga berbeda-beda maknanya tergantung maksud dan tujuan upacara yang diselenggarakan. Saat ini perkembangan tenun lurik mengalami kemunduran yang cukup signifikan baik dalam hal jumlah produksi, teknik produksi, desain, maupun pengembangan produk. Penurunan produksi tenun lurik tersebut ditandai dengan menurunnya jumlah tempat produksi tenun lurik di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Berbagai tempat sentra produksi tenun lurik, seperti di daerah Krapyak Wetan saat ini hanya terdapat satu perusahaan tenun lurik. Begitu juga yang terjadi di dusun Mlangi, Kabupaten Sleman saat ini sudah tidak ada lagi perusahaan tenun lurik. Sedangkan beberapa tempat lain yang diperkirakan masih terdapat tempat pembuatan tenun lurik, yaitu di dusun Nggamplong, Godean, Sleman, atau di beberapa tempat di Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Berkurangnya minat masyarakat, regenerasi keahlian, dan minimnya pengetahuan tentang tenun lurik juga menjadikan tenun lurik menjadi langka dan sulit di jumpai. |
