Nyadran – Tradisi Masyarakat Jogja Menyambut Ramadhan

Harga
Deskripsi Produk Menyambut bulan ramadhan, masyarakat Jogjakarta memiliki tradisi yang tetap lestari. Nyadran, namanya. Namun, di sebuah dusun di Kabupaten Sleman, tradisi mengirim doa untuk leluhur ini tidak dilakukan di tempat pemakaman umum seperti di daerah lain, tapi di pasar tradisional.
Suasana Pasar Dusun Saren di Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman seketika ramai saat ratusan warga membawa jodang berisi makanan dan buah-buahan. Ada nasi tumpeng, ingkung ayam, ketan, apem dan kolak pisang. Tiga yang terakhir merupakan menu yang wajib dibawa setiap keluarga dalam tradisi nyadran.

Apem dimaknai dari bahasa arab affun yang berarti pengampunan. Sedangkan ketan disimbolkan sebagai perekat kekerabatan. Ada pun kolak pisang melambangkan kesegaran.
Secara filosofis, ketiga makanan ini menyimbolkan tujuan nyadran yakni permohonan ampun atas dosa-dosa leluhur dan kekerabatan yang erat antar anggota keluarga sehingga bisa menghadapi puasa dengan hati yang lapang dan nalar yang segar.


Bersama anggota keluarga masing-masing, mereka duduk di los yang biasa digunakan para pedagang menggelar dagangan. Dengan khusuk mereka mengikuti prosesi tahlil yang dipimpin kyai setempat.
Seluruh makanan baru bisa dimakan setelah seluruh prosesi selesai. Dan, di sinilah uniknya. Masing-masing keluarga saling bertukar makanan dan saling mencicip.
Tidak diketahui kapan tradisi nyadran yang biasanya digelar di makam berpindah tempat di pasar. Namun, dibanding dusun-dusun lain di Desa Wedomartani, Dusun Saren memiliki jumlah penduduk yang paling banyak, sekitar 1.300 jiwa dengan tiga tempat pemakaman umum. Di Dusun ini, nyadran selalu digelar setiap dua minggu menjelang ramadhan.

Postingan populer dari blog ini

Selamat hari Ibu - Merinding membacanya

Kerajinan Kulit Ikan Pari Dari Kabupaten Sleman

Kerajinan Kulit Desa Wukirsari, Imogiri Bantul